

CIREBON – Komitmen SMP Negeri 7 Kota Cirebon dalam membangun sekolah yang peduli dan berbudaya lingkungan terus diwujudkan melalui berbagai program nyata. Berbekal semangat kolaborasi seluruh warga sekolah, SMP Negeri 7 Kota Cirebon mengembangkan sepuluh divisi lingkungan yang menjadi motor penggerak Program Adiwiyata Mandiri, sebuah program nasional yang bertujuan membentuk sekolah berwawasan lingkungan secara berkelanjutan.
Berbeda dengan sekadar menjaga kebersihan sekolah, Program Adiwiyata Mandiri menanamkan nilai-nilai kepedulian lingkungan ke dalam seluruh aktivitas pembelajaran maupun budaya sekolah. Peserta didik tidak hanya diajarkan teori, tetapi juga dilibatkan langsung dalam kegiatan pelestarian lingkungan, pengelolaan sampah, konservasi air, penghijauan, hingga kewirausahaan berbasis lingkungan.
Kepala SMP Negeri 7 Kota Cirebon, Dra. Euis Sulastri, M.Pd., menegaskan bahwa pendidikan lingkungan merupakan bagian penting dalam membentuk karakter generasi masa depan.
"Program Adiwiyata bukan hanya tentang menciptakan sekolah yang bersih dan hijau, tetapi juga membangun karakter peserta didik agar memiliki kepedulian, tanggung jawab, dan kebiasaan menjaga lingkungan dalam kehidupan sehari-hari. Kami ingin seluruh warga sekolah menjadi pelopor perubahan menuju lingkungan yang lebih sehat dan berkelanjutan," ujar Dra. Euis Sulastri, M.Pd.
Menurutnya, keberhasilan Program Adiwiyata tidak dapat dicapai hanya oleh guru ataupun peserta didik, tetapi membutuhkan keterlibatan seluruh warga sekolah, orang tua, komite sekolah, pemerintah, serta masyarakat sekitar.
Sebagai bentuk implementasi nyata, SMP Negeri 7 Kota Cirebon mengembangkan sepuluh divisi unggulan yang saling terintegrasi.


Divisi ini menjadi sarana pembelajaran kewirausahaan dan ketahanan pangan. Peserta didik belajar mengenal proses budidaya jamur mulai dari persiapan media tanam, perawatan, hingga panen. Selain menghasilkan produk konsumsi, kegiatan ini melatih ketelitian, tanggung jawab, dan keterampilan berwirausaha.
Melalui inovasi konservasi air, limbah air wudhu yang masih layak digunakan dialirkan ke kolam ikan. Air dari kolam tersebut kemudian dimanfaatkan kembali dalam sistem aquaponik, yaitu budidaya tanaman yang memperoleh nutrisi alami dari kotoran ikan. Sistem ini menjadi contoh nyata pemanfaatan sumber daya secara efisien sekaligus mengurangi pemborosan air bersih.
Peserta didik belajar menanam berbagai jenis sayuran menggunakan sistem hidroponik tanpa tanah. Selain memperkenalkan teknologi pertanian modern, kebun hidroponik juga mengajarkan pentingnya pemanfaatan lahan secara efektif untuk mendukung ketahanan pangan.

Melalui penerapan prinsip Reduce, Reuse, dan Recycle, warga sekolah diajak mengurangi penggunaan barang sekali pakai, memanfaatkan kembali barang yang masih layak, serta mendaur ulang limbah botol plastik, kaleng, kardus, dan berbagai jenis sampah lainnya menjadi produk yang lebih bernilai.
Daun kering, rumput, dan sisa tanaman diolah menjadi pupuk kompos. Hasil kompos dimanfaatkan kembali untuk menyuburkan taman, kebun sayur, dan berbagai tanaman di lingkungan sekolah sehingga tercipta siklus pengelolaan sampah yang ramah lingkungan.
Divisi penelitian memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk melakukan penelitian sederhana mengenai pertumbuhan tanaman, efektivitas pupuk organik, media tanam, maupun teknik budidaya. Kegiatan ini mengembangkan kemampuan berpikir kritis, analitis, dan ilmiah.
Sebagai inovasi ruang hijau, Hutan Sekolah dikembangkan sebagai kawasan vegetasi yang berfungsi sebagai penyaring udara dari polusi kendaraan di sekitar lingkungan sekolah. Area ini ditanami berbagai pohon peneduh dan tanaman penyerap polutan yang berperan penting dalam meningkatkan kualitas udara, menciptakan lingkungan belajar yang lebih sehat, serta menjadi laboratorium alam bagi peserta didik untuk memahami pentingnya ekosistem hijau di kawasan perkotaan.
Berbagai tanaman sayuran serta tanaman obat seperti jahe, kunyit, serai, lengkuas, kencur, lidah buaya, dan tanaman herbal lainnya dibudidayakan sebagai media pembelajaran mengenai manfaat tanaman bagi kesehatan, gizi, dan kehidupan sehari-hari.
Melalui Bank Sampah, peserta didik belajar memilah sampah berdasarkan jenisnya, menimbang, mencatat, hingga memahami nilai ekonomis dari sampah yang dikelola dengan baik. Program ini sekaligus menumbuhkan budaya disiplin dan tanggung jawab dalam pengelolaan sampah.
Kreativitas peserta didik dikembangkan melalui pembuatan berbagai produk ramah lingkungan seperti pupuk organik cair, kompos, eco-enzyme, pot tanaman dari barang bekas, kerajinan berbahan limbah plastik, hingga produk rumah tangga lainnya yang memiliki nilai guna dan nilai ekonomi.
Dra. Euis Sulastri berharap seluruh program tersebut mampu menjadi budaya yang terus berkembang di lingkungan sekolah.
"Kami ingin peserta didik tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga memiliki pengalaman nyata dalam menjaga lingkungan. Harapannya, kebiasaan baik yang dibangun di sekolah dapat diterapkan di rumah dan di tengah masyarakat sehingga memberikan manfaat yang lebih luas bagi keberlanjutan lingkungan," tambahnya.
Melalui berbagai inovasi tersebut, SMP Negeri 7 Kota Cirebon optimistis mampu terus meningkatkan kualitas pendidikan lingkungan hidup sekaligus memperkuat posisinya sebagai sekolah yang mengedepankan pembangunan berkelanjutan. Semangat gotong royong, inovasi, dan kepedulian seluruh warga sekolah menjadi modal utama dalam mewujudkan SMP Negeri 7 Kota Cirebon sebagai Sekolah Adiwiyata Mandiri yang unggul, inspiratif, dan berwawasan lingkungan.